Cerita Terjalnya Pendakian Gunung Cikuray Via Pos Pemancar

By | April 20, 2018

puncak gunung cikuray

Kurangcermat.com – Gunung cikuray merupakan gunung tertinggi ke empat di provinsi jawa barat, jalur pendakian menuju puncak ada 3 pilihan jalur yaitu jalur cikajang, bayongbong dan dayeuhmanggung. Seperti yang sudah saya ulas sebelumnya di postingan perjalanan dari bandung menuju gunung cikuray. Pendakian kali ini  melewati jalur Dayeuhmanggung(pos pemancar). Menurut informasi, jika kita dari Bandung pos paling dekat ya di pos pemancar dayeuhmanggung, selain itu juga jalur ini relatif lebih mudah terutama untuk pemula.

Setelah sampai di pos pemancar, kita wajib buat registrasi ulang, cukup isi data diri dan nomor yang bisa dihubungi untuk jaga-jaga, namun kemarin saya tidak perlu nunjukin surat keterangan dokter, oh iya ini bukan di Semeru ya. Selesai registrasi, ketemulah sesama calon pendaki Cikuray, Suasana sangat nyaman dan penuh kekeluargaan, banyak canda diantara sesama pendaki padahal mereka baru kenal, terutama cewek pasti bakal banyak yang nanyain dan jangan gampang baper karna bercanda di gunung pasti bakal lebih sok akrab. Tidak ada jarak sesama pendaki, kita bakal saling sapa dan bertukar informasi disini, ada juga yang langsung melanjutkan perjalanan ke puncak. Semua kembali ke pilihan masing-masing. Mampir ngopi dulu, rasanya kurang afdol naik gunung tidak mampir di warung deket basecamp, sembari melepas lelah setelah perjalanan panjang. Di sruput dulu kopinya, bakar rokok dan ikut nimbrung. Kebetulan ada pendaki sendirian masih packing ulang buka-buka carrier, dilihat dari fashionnya udah profesional, sepatu bots, carrier besar asli buatan Bandung, gelang prusiknya berwarna-warni, tak lepas buff dililit di tangan kiri. Pas saya tanya asal daerah dia bilang tinggal di bandung, kesini menggunakan angkutan umum. Rata-rata pertanyaan pendaki membuka pembicaraan bahas asal daerah dulu untuk bisa membuka kembali pertanyaan berikutnya. Mengutip informasi dari doi yang belum sempat kenalan nama. Kalo kalian dari bandung bisa naik bis jurusan garut, lebih tepatnya terminal guntur, setelah itu bisa pindah ke angkot jurusan cilawu turun di patrol, ingat turun di patrol ya jangan sampe kelewat, terus masuk ke kebun teh dan menuju ke dayeuh manggung, akses menuju kesini ada banyak pilihan bisa jalan kaki (bagi yang minat), naik ojek, atau sewa mobil khusus buat nganterin ke pos pemancar. Kemarin waktu perjalanan kesini juga banyak ketemu rombongan yang menyewa mobil. Mudah bukan? Banyak alternatif kendaraan.

pos pemancar dayeuhmanggung

Gambar ini saya ambil ketika sunset di basecamp pos pemancar, menggunakan kamera pocket sederhana nan murah samsung PL120. Tak lama berselang kabut menutupinya.

Pendakian memakan waktu sekitar 6-7 jam perjalanan normal. Rencana kita naik malam hari sekitar jam 10, dengan estimasi waktu perjalanan subuh sampai di puncak. Hari sudah semakin sore, kabut pun menutupi pemancar, sekitar jam 9 malem rintikan air hujan mulai turun. Yap, suasana makin dingin, saya pun tidak kuat berlama-lama menahan dingin, akhirnya buka SB jadi kepompong. Yang lain sudah melanjutkan perjalanan, di basecamp hanya ada saya, novan dan mas penjaga basecamp, duh saya lupa namanya. Kebetulan motor kita sama Jupiter MX keluaran 2011 dan untungnya saya juga sedikit paham motor, disini ada pembahasan yang tidak horizontal dan monoton seputar pendakian saja. Tidak terasa sudah jam 11, namun hujan masih mengguyur. Masnya (saya lupa belum kenalan) nyaranin buat kita mendaki esok pagi saja karna cuaca malam itu tidak mendukung. Kalo yang bilang udah berkecimpung setiap hari disana mah kita nurut aja. Kebaikan masnya tidak hanya sampai disitu bahkan dia menawarkan kita tidur dikamar bertiga bareng dia, biar nggak kena angin katanya. Waow

Paginya cuaca cerah, langitpun membiru sempurna. Di warung sudah banyak pendaki-pendaki dari berbagai daerah, suara canda dan obrolannya terdengar riuh, mungkin semalem mereka tidur di terminal atau ngecamp di sekitar basecamp. Sekitar jam 6, kita memutuskan buat pamit dan tak lupa mengucapkan banyak makasih sama masnya untuk kamar semalam.

Perjalanan menuju pos 1

Awal perjalanan sudah disuguhkan dengan ciptaan kuasa yang begitu mempesona, sunrise di kebun teh yang tumbuh diatas bukit-bukit kecil dan sisa sisa kabut pagi hari melengkapi keindahan kaki gunung Cikuray. Jalan masih lumayan landai dan belum menemui tanjakan curam sesekali melewati kebun-kebun warga, pingin masak sup jadinya liat banyak sayuran, namun sedikit berbahaya permukaan tanah basah akibat guyuran hujan semalam, ditambah jenis tanah di sini tanah merah bata, licin banget kalo kena air. Dari belakang rombongan pendaki mulai menyusul, kita beradu paru-paru disini. “mari mas, mari aa” kata-kata khas yang sering dilontarkan ketika ketemu sesama pendaki.

pos 1 gunung cikuray

Perjalanan menuju pos 1, baru setengah jam sudah transit menikmati indahnya pemandangan banyak …(tuuuut) sebenernya karena tidak ada pemanasan.

Sampai di pos 1, kita diwajibkan daftar ulang kayak daftar sekolah gitu, tapi cukup satu orang aja yang registrasi biar dia ngisi nama semua anggotanya, jujur ya jangan ada yang kelupaan. Nah, di pos ini juga kalian terakhir jajan sebelum lanjut perjalanan, selain itu juga sebagai pos isi air.

Pos 1 sampai pos 3

Setelah semua beres langsung lanjut menuju puncak, eh pos 3 deng. Perjalanan sudah mulai memasuki hutan, kombinasi kekuatan paha dan paru-paru terus diuji, tanjangan semakin terjal jarang banget dapat bonus. Udah nggak dapat bonus, tanjakannya juga sadis.

Mulai dari kemiringan yang ekstrim, jalan yang kita lewati  bareng sama jalan air turun jadinya kontur tanahnya kayak sungai kering gitu, ada bebatuan dan akar-akar pohon di jalan menanjak. Lengkap sudah halangan rintangan ini. Terlebih malemnya hujan, akar pohon dan tanah merah menjadikan pendakian ini makin lengkap dan komplit 4 sehat 5 sempurna.

Alhamdulillahnya dapat hiburan nama-nama tanjakan di sini, bisa dibilang nama-nama tanjakannya unik sih. Tanjakan cihuy, sakti, taraje dan tanjakan wakwaw. Lucu kan? Tetep aja doi menyiksa broh dan menuntut buat milih jalan sendiri, karna doi kadang ngasih berbagai pilihan jalur, hayo mau lewat mana. Setelah 2 jam lebih perjalanan akhirnya sampai juga di pos 3 yang letaknya di dalam hutan.

tanjakan wakwaw

Tanjakan Wak Waw entah saya juga kurang tahu siapa yang ngasih nama

 

Pos 3 sampai puncak bayangan

Saya tidak bisa kasih ulasan banyak disini, keadaan jalan masih sama kayak di pos 1 menuju pos 3, tanjakan terjal, jalanan berakar dan kontur tanah bekas jalan air membuat kaki gemeteran. Langsung saja sekitar 4 jam perjalanan akhirnya sampai di pos bayangan. Disini merupakan kawasan tanah datar yang cukup luas, bisa buat ngecamp.

Total perjalanan dari pemancar ke puncak bayangan sekitar 7 jam perjalanan, bisa dikatakan standar karna kita Cuma berdua jadi agak cepet tidak saling meunggu atur nafas. Mungkin kalo rombongan semakin banyak bakal memakan waktu lebih lama.

pendakian gunung cikuraypendakian gunung cikuraypendakian gunung cikuray

Niat awal mau ngecamp di dekat puncak, namun sialnya, siang itu tiba-tiba hujan mengguyur. Kami pun langsung bergegas mencari tempat buat ngecamp. Hujan pun semakin deras hanya bisa pakai jas hujan dan numpang di plesit orang.

Baru setelah hujan reda perjalanan dilanjut lagi menuju puncak. Di tengah perjalanan gerimis mengguyur lagi haripun semakin sore, mau nggak mau transit lagi disini dan mutusin buat ngecamp aja disini.

pos bayangan gunung cikuray

Di depan tenda ada burung sejenis gagak mencari peruntungan kebutuhan hidup sore hari. burung liar namun doyan sampah bekas pendaki, miris ya.

Malam harinya hujan nggak juga reda, sepatu udah basah, pakaian juga, isi carrier juga jadi lembab dan basah. Dan keapesan yang kedua tenda kita bocor. Ini kesalahan fatal, kita cuma pakai tenda 2 orang model tenda ngecamp doang dan lupa nggak bawa plesit. Untuk musim hujan plesit bisa dibilang sangat penting karna tenda kalo tidak dikasih plesit kemungkinan bocor di bagian jahitan dan resleting. Kecuali kalo tenda yang kita bawa emang bermerk dan safety. Air masuk ke segala penjuru tidak ada lagi sisi yang kering, pakaian juga sudah basah semua, daripada hipo disini saya dan novan sepakat buat turun saja malam itu, sekitar jam 10 malem kita packing dan turun. Sepanjang perjalanan beberapa kali novan terpeleset, cuaca semakin mencekam, tidak ada pendaki lain yang melakukan perjalanan, hanya kita berdua. Pikiranku juga semakin kacau merasakan keadaan seperti ini.

Di puncak bayangan ada pendaki yang kebetulan diluar, kita pun ngobrol sebentar cerita kalo tenda bocor, tidak bawa plesit, pakaian basah semua, sampai sleeping bag (SB) juga basah. Mereka juga bercerita kalo awalnya rombongan berenam, yang dua orang ketinggalan dibawah membawa tenda ukuran 4 orang. Sedangkan yang disini 4 orang hanya membawa tenda ukuran 2 orang. Alhamdulillah rombongan dari Depok ini baik hati menawari kita tumpangan plesit, mereka merubah posisi plesit supaya nyukup buat dua tenda. Kita sepakat buat bergabung dan satu dari mereka masuk ke tenda kita. Karena SB kita basah mereka juga nawarin buat pakai SB bareng bareng dijadiin selimut.

Malam hari saya hampir hipo tidak bisa tidur, kita bertiga saling pelukan di dalam tenda. Rasanya nyesssss, tiga orang laki-laki berpelukan melawan dingin. Waktu serasa berjalan lambat, pingin rasanya pagi hari melihat matahari biar bisa berjemur, biasanya kalau malam hujan paginya bakal cerah, harapannya sih gitu. Malam itu saya sangat takut, pikiran kacau, mulut terus bergetar, badan menggigil.  Tidak ada lagi pikiran buat melanjutkan sampai puncak, ingin rasanya cepat-cepat sampai rumah novan. Pikiran tambah kacau membayangkan perjalanan yang bakal kita lewati sampai ke Bandung. Nggak tahan juga, saya pun ketiduran.

Paginya bener. Cuaca cerah. Yaaayy

Seteah berjemur badan udah lumayan fit tidak kedinginan, sayang rasanya kalo sudah kesini tidak sampai puncak. Ingat banyak pendaki bilang

puncak hanyalah bonus, tujuan mendaki adalah kembali ke rumah

Terserah omongan netijen, namanya juga puncak ya kita gapai dong. Wkwk

Puncak bayangan – puncak gunung cikuray

Barang-barang yang tidak perlu ditinggal, cuma bawa tas slempang isi minum dan roti. Balik lagi melewati perjalanan semalam udah kita lewati, pagi itu saya kembali melihat bekas jalan yang sama, kondisi pagi ini cuaca cukup cerah. Setelah sampai di bekas tenda semalem saya melihat-lihat dan teringat tadi malam hampir kena musibah disini. Nggak usah terlalu melo perjalanan dilanjutkan aja. Yap, tanjakan justru makin tega setega ibu jari netizen, nggak ada ampun untuk mencapai puncak. Kiri kanan jurang dan jalanan kecil menuntut kita untuk lebih berhati-hati. Untung saja kemarin kita tidak ngecamp di puncak, apa jadinya kalo hujan, turun lewat sini.

Sudah dekat sampai puncak, pepohonan mulai pendek-pendek ada tumbuhan edelweis juga kalo lagi beruntung bisa melihat bunga edelweis, dilihat aja ya jangan di petik. Setelah tanjakan batu yang cukup curam dan berbahaya, terlihat juga puncak Cikuray. Tidak sabar rasanya untuk cepat sampai kesana.

Alhamdulillah. Akhirnya setelah melewati perjalanan panjang dan berkesan ini akhirnya sampai puncak juga. Pemandangan disini lautan awan hampir sempurna pagi itu. Indah sih, tapi tidak kelihatan negeri parahyangan.

Di puncak gunung Cikuray merupakan tanah datar yang lumayan luas, bentukannya kayak di puncak Merbabu Trianggulasi bedanya puncak Cikuray jauh lebih luas, dan ada semacam pos yang bisa buat berteduh kala hujan, berukuran kurang lebih 8×8 meter. Di sekitar juga banyak berdiri tenda-tenda, pasti tadi malem pas hujan banyak yang di dalam pos tersebut. Walaupun malamnya hujan, keadaan di puncak pagi itu sangat ramai, banget malah, kayak di puncak Andong gitu, padat merayap banyak tenda, mau jalan aja harus banyak permisi melangkahi kompor, sampah, nyempil di tenda dan orang-orang foto di Cikuray. Antusias pendaki di bulan februari yang bisa dibilang kurang cocok buat mendaki bisa ditepis juga oleh Cikuray, buktinya tetap ramai walaupun dua hari diguyur  hujan. Kemungkinan, di daerah Jawa Barat banyak gunung yang tutup, kayak Papandayan, niat awal mau kesana ternyata tutup, jadi orang orang memiliki pemikiran yang sama kayak saya, gunung terdekat dari papandayan dan yang buka menjadi tujuan kedua, itulah serasa lonjakan arus mudik.

Waktu itu saya hanya melihat puncak gunung Ciremai saja, daratan bener-bener tidak ada yang terlihat dipenuhi lautan awan. Tak ingin melewatkan momen, saya pakai kamera pocket Samsung PL120 punya novan buat ambil momen disini, tapi sayang hanya saya sendiri yang sampai puncak, padahal kita dari Bandung berdua. Rasanya seperti drama ftv, tidak lama novan nyusul juga, ealah tadi bilangnya mau di tenda aja tapi nyusul juga, pikirku.

puncak gunung cikuray

puncak gunung cikuray

Yak, begitulah cerita pendakian di gunung Cikuray pas musim hujan. Alangkah baiknya lebih di persiapkan lagi kalo mau mendaki pas musim hujan, karna cuaca diatas kita tidak ada yang tahu. Jas hujan, plesit, kanebo, dan perbanyak plastik yang mungkin bisa dibutuhin. Memang sih plastik tidak bagus buat lingkungan makannya jangan buang sampah sembarangan terutama plastik di gunung. Maksud saya sedia banyak plastik itu untuk membungkus barang yang rentan terhadap air kayak pakaian, kamera, hp, powerbank. Satu lagi, bisa buat sebagai pengganti kaus kaki dan sarung tangan ketika tidur, plastik terbukti bikin anget.

 

2 thoughts on “Cerita Terjalnya Pendakian Gunung Cikuray Via Pos Pemancar

  1. Himawan Sant

    Seru ngikutin cerita trekking kamu ke Gunung Cikuray…,
    Itu burung gagaknya kasian ya sampai mungutin makanan dari sampah.
    Apa minim persediaan makanan untuk hewan disana kali ya ..

    Reply
    1. Rizki Post author

      sepertinya habitat dan ekosistem sudah rusak karna banyakya sisa makanan yang dibuang, sehingga dimakan burung-burung

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *