Riding Jogja – Bali, Ritme Jawa Timur dari Ngawi Sampai Situbondo

By | Mei 6, 2018

touring jogja bali

Kurangcermat.com – Oke, kembali lagi saya mau cerita tentang touring. Saya suka touring tapi saya tidak tergabung ke dalam komunitas motor maupun komunitas pecinta touring, atau bahkan komunitas motor box Indonesia. Ya, setiap kali saya mengadakan perjalanan selalu independent. Begini maksudnya, biasanya kalo anak motor, katakanlah CB yang merupakan komunitas besar di Indonesia, ketika ada anggota solo riding ke kota manapun se-Indonesia ketika dia post atau share di komunitas CB bilang aja kalo sedang berada dikota yang disinggahi, pasti bakal ada komunitas daerah yang mereka singgahi menawarkan tempat dan menyambutnya, atau langsung kontak pribadi chapter daerah masing-masing. Itulah enaknya bergabung dengan komunitas.

Touring Jogja – Bali ini bagi saya sendiri merupakan touring menggunakan sepeda motor paling jauh yang pernah saya lakukan. Di tulisan sebelumnya Solo Touring Jogja Bandung merupakan trip terjauh kedua. Menempuh jarak 711.000 meter/711 km. Memakan waktu perjalanan 2 hari, udah sama transit ya tidur, mandi, rokok-rokok. Kalo total bersih berkendara tanpa istirahat, sekitar 19 jam mesin jupiter MX saya bekerja. Tujuan saya di bali adalah berlibur ke nusa dua lebih tepatnya numpang transit di tempat teman saya kuliah (Rufalzyh). Seperti mendaki, tujuan hanyalah bonus, perjalanan yang jadi tujuan utama. Karna memang tidak ada itinerary sama sekali, di Bali nanti bakal ngapain aja saya pasrah saja sama yang punya rumah. Yang penting jalan aja dulu.

Kali ini saya tidak sendiri, ada teman satu kontrakan namanya Arga, kita berdua riding ke Bali. Dua orang dua motor, udah seperti pe-touring profesional ghost rider tidak berboncengan, haha. Jalan jauh gini lebih enak pakai dua motor atau tidak berboncengan. Yakinlah kalo ada masalah di jalan yang amit-amit tidak kita inginkan itu lebih mudah mengatasinya.

Start dari Jogja, atau lebih tepatnya Ngaglik Sleman sekitar pukul 6 pagi melewati jalan besi ke arah Prambanan. Setelah sampai Prambanan, masuk jalan nasional Solo-Jogja. Keadaan jalan pagi itu lancar belum banyak kendaraan yang lewat. Di Kalitirto transit dulu bentar isi bensin pertama full. Ketika masuk Klaten sudah mulai agak siang kendaraan mulai padat, terutama di dekat pasar-pasar tradisional. Masih ikuti jalan utama terus dengan patokan rambu di pinggir jalan arah Surabaya. Kebetulan saya juga biasa main di tempat teman saya Orie sama Adit di Ngawi, setidaknya sampai Ngawi lumayan hafal jalan, ditambah Arga orang karanganyar, masuk kota Solo sudah ada dia sebagai local people. Lagian jalan Solo juga tidak membutuhkan navigasi GPS. Begitu di Sragen juga belum ada masalah, Cuma kadang yang bikin bingung mau lewat by pass apa lewat kota.

Jateng – Jatim

Sampai di perbatasan Jateng – Jatim sekitar setengah 9, jalanan lengang nan luas, begitu masuk Jawa Timur langsung disambut pondok modern gontor, tak berlangsung lama setelah melewati Mantingan masuk alas Ngawi. Kondisi jalan berkelok didalam belantara hutan. Justru disini rasanya seperti diputar kembali, melewati tikungan yang sama, hutan yang sama juga. Padahal tikungan-tikungan di tengah hutan tidak ada patokan kayak di kota ada tikungan dikirinya hotel ada pembeda lah, nah di hutan tetap aja kiri kanan pohon. Sampai Ngawi sekitar jam 9 pagi. Kota ini tidak banyak pengalihan arus tinggal ikuti jalan utama saja, transit kedua isi bensin lagi. Kapasitas tangki Jupiter MX buat jalan jauh seperti ini serasa bentar abis. Prambanan – Ngawi sudah sampai garis merah lagi, wajar sih Cuma 4 liter buat jarak 120 km ya habis.

Lepas kota Ngawi ada pertigaan besar kalo kanan arah madiun, lurus arah nganjuk-Surabaya. Ambil lurus aja lewat Saradan. Kondisi jalan lumayan lengang namun kontur jalan di Ngawi ini bikin terapi suspensi. Banyak tambalan jalan timbul lumayan kerasa kalo pake motor.

Sampai Nganjuk sekitar jam 11 siang, transit dulu kebetulan ada sedikit kendala, ban belakang motor Arga bocor, sembari nunggu Arga nambal ban saya ganti oli motor dulu biar tarikan enteng dan lebih irit, kebetulan motor tidak saya service dan tidak ada persiapan sama sekali.

Masih di Nganjuk jalan sebentar sekalian nyari makan a.k.a sarapan, yahh baru sarapan jam 11 siang padahal dari pagi sudah kena angin terus. Sama sekali tidak patut ditiru ya. Di pertigaan besar kota Nganjuk simpang Kediri Surabaya kalo tidak salah dekat stasiun Nganjuk, mampir dulu sarapan SGPC (sego pecel) nan legendari di Jawa Timur-an ini.

Selepas dhuhur perjalanan di lanjut lagi menyusuri jalanan Madiun – Surabaya. Kondisi jalan disini lurus mulus namun ramai dan banyak kendaraan besar, di kanan jalan ada pemandangan rel kereta api sejajar dengan jalan, kalo beruntung bisa adu kecepatan dengan kereta. Kecepatan rata-rata sekitar 70km/jam, namun tetap fokus jangan terlena dengan kondisi jalan yang lurus, kadang di belakang truk ada kepala mas sugeng rahayu dan kawan-kawannya tiba-tiba muncul. Mending ngalah saja daripada di sruduk. Selain itu banyak debu beterbangan tidak bagus untuk paru-paru makhluk hidup.

Melewati sungai brantas, tidak jauh dari situ ada perempatan besar dan ada jalur kereta api di dekatnya, kalo kanan arah Kediri lurus Surabaya, pastinya ambil yang lurus dong arah Surabaya.

Sedikit catatan: dari lepas Ngawi tepatnya di pertigaan Mejayan hingga Kertosono banyak dilintasi jalur kereta api, nah jalurnya itu melintang membentuk huruf X antara rel dan jalan raya, rawan kepleset terutama saat cuaca hujan, walaupun palang pintu terbuka lebar usahakan pelan saja.

Perjalanan masih terus berlanjut, hari semakin panas, untung perut sudah tidak rewel lagi. Sebelum masuk Jombang ada perempatan dan yang ke kanan semacam jalur alternatif, nama jalannya basuki rahmat. Kalo mau arah Mojokerto justru cepat lewat sini, nanti tembusnya alun-alun Jombang. Bareng sama kendaraan besar tapi jalanan lurus-russsss. Sampai alun-alun Jombang juga tidak terlalu membingungkan, ada petunjuk jalan mengarahkan ke Mojokerto. Jalan kembali lurus mengikuti rel kereta api sampai perempatan jalan nasional langsung arah Mojokerto.

Di perempatan by pass nanti ada pilihan jalur mau lewat mana, sebenarnya sama saja tapi rute paling cepat lewat jalan Gempol – Mojokerto. Langsung tembus gempol mengikuti jalan. Kali ini melewati hutan-hutan pinggiran Mojokerto nan sejuk, jalan juga banyak tikungan halus namun sesekali melewati industri yang menyebalkan.

Sampai di Mojosari transit lagi isi bensin ketiga kalinya, motor saya bensin sudah mau habis, motor arga vario 125 ternyata masih setengah. Daripada nanti nyari pom bensin lagi kita isi bareng. Motor yang punya kapasitas tangki besar dan lebih irit mau tidak mau mengikuti tangki kecil dan lebih boros. Ternyata vario 125 untuk touring kecepatan tinggi irit juga ya. Sampai Mojosari sekitar jam 2 siang. Melihat langit sedikit gelap, hati juga sedikit was-was. Tak lama-lama kita lanjut lagi. Blarr

touring jogja bali

Sampai di Gempol juga nanti dibingungkan. Enaknya ambil arah Surabaya sekitar 500 meter ada pertigaan besar arah Bangil, lebih tepatnya sebelum jembatan besar. Belok kanan arah Bangil ikuti jalan terus. Jalanan tadi lumayan rame lalu lintas jurusan Surabaya – Malang. Jalan arah Bangil ini sudah masuk jalur pantura, tidak perlu ada yang di kawatirkan tentang perempatan lagi.

Tinggal berpatokan pada kota-kota yang akan di lewati, Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo.

Sampai di depan SMP Pasuruan ada razia sepeda motor. Saya kira perjalanan jauh tidak di perhentikan ternyata di cegat juga. Sudah jelas lengkap dan taat aturan dong. Bapaknya Cuma nanya G itu mana mas? (plat nomorku) Batang pak, sebelahnya Pekalongan ini mau ke Bali. Jawabku. Jauh sekali, jalan-jalan? Nanti istirahat di SPBU Raya aja setelah PLTU Paiton. Pak polisi baik hati ini malah ngasih saran. Tak lupa pesan hati-hati selalu di sampaikan.

touring jogja bali

Jalan pantura lepas Pasuruan ini enak banget, lurus, sepi dan melewati kampung-kadang hutan, ada rel kereta api juga di sebelah kiri. Beda banget sama di Pantura Batang isinya truk besar dan bis sebagai mayoritas. Serasa pingin membetot gas lebih kencang lagi supaya tidak kemaleman nyampe SPBU Raya dekat Besuki.

Setelah lewat kota Probolinggo, transit lagi sekalian isi bensin ke-4 di dekat pertigaan Probolinggo arah Lumajang. Hari semakin sore sekitar jam setengah 5 baru sampai sini. Prediksi bakal kemaleman sampai tempat transit yaitu SPBU Raya, tapi badan dan pantat tidak bisa dipaksa dan harus istirahat sejenak, kasian motornya juga kalo dipaksakan. Seperti biasa, yang dicari kalo transit selain pom bensin ya Indomaret. Supaya stamina dan asupan ion tetap terjaga, saya biasanya beli hidro coco, sugesti aja, rasanya setelah minum jadi tambah semangat. Namanya juga sugesti.

Jam 5 perjalanan dilanjut lagi ke timur menyusuri jalan pantura nan sepi ini. MX tetap di betot di kecepatan sedang hingga tinggi. Vario punya Arga juga tetap bisa mengimbangi, saya justru salut dengan motor matic satu ini, terlepas dari penggunaan harian minim perawatan, mesin tetap tangguh buat jalan jauh.

Nah, tidak lama dari sini bakal melewati pabrik gula Wonolangan. Spotnya cukup menarik buat foto kekinian netizen, ada rangkaian lori di pinggir jalan beserta lokomotif kecilnya. Tapi hari sudah semakin sore, saya pun tetap membetot gas mengejar senja yang berjalan semakin cepat. Jam 6 kurang seperempat masuk ke kawasan Java Power Paiton. Pemandangan buatan ini saya akui keren di malam hari, memang sih bukan tempat wisata melainkan sumber listrik, tapi lampu-lampu di PLTU paiton ini keren, ditambah jalanan berliku dan menanjak memanjakan mata gemerlap lampu PLTU. Sesekali tongkang batubara juga terlihat dari jalan menambah keindahan gemerlap lampu.

Dari PLTU Paiton, kata pak polisi di Pasuruan tadi sekitar sepuluh menit lagi dikiri jalan sampai di SPBU Utama raya. Bener juga, nggak sampai sepuluh menit udah kelihatan dari kejauhan. Seperti rencana awal, kita pun transit untuk mandi dan tidur disini. Awalnya saya ngira bakal seram tidur di pom. Khayalan itu terbantahkan ketika masuk pom bensin, ternyata rame bener, bahkan ada hotel dan resto disini untuk yang mau menginap dengan nyaman. Semua fasilitas seperti rumah makan, cafe dan toilet dikelola oleh perusahaan, keamanan terjamin deh pokoknya tidak seperti pom bensin di sepanjang pantura pada umumnya. Malah seperti di sentra kuliner. Fasilitas toilet juga ada air hangat, cocok banget buat menghilangkan pegal dan capek, dan tetap setia menggunakan kanebo sebagai pengganti handuk. Akhirnya bisa istirahat untuk trip hari pertama ini.

motoran jogja bali

Cafe yang ada di SPBU Utama Raya, harganya juga tidak mahal banget. smoking area dan ada colokan pastinya.

motoran jogja bali

Suasana SPBU dari pintu keluar.

penginapan murah

Ini dia hotel yang nantinya bakal saya tidurin sampai pagi menjelang.

Kita menginap di fasilitas gratisnya aja, gazebo-gazebo yang sudah di sediakan di pinggir pom bensin. Berhubung gratis, ya bareng sopir truk dan pengendara lain yang memakai fasiitas gratis ini.

Trip hari kedua Utama Raya – Nusa Dua saya sambung di postingan berikutnya ya.

Rest Area Utama Raya

6 thoughts on “Riding Jogja – Bali, Ritme Jawa Timur dari Ngawi Sampai Situbondo

  1. Himawan Sant

    Keren nih masuk komunitas … bisa dapat kemudahan banyak hal dari sesama komunitas 👍

    Salut, road trip nya jauh …
    Kalau aku ada temen barengan,aku berani.
    Tapi kalo sendirian, rada takut juga 😁

    Reply
    1. Rizki Post author

      iya kalo komunitas enaknya gitu, solid biasanya.

      Reply
      1. Himawan Sant

        Mantaaap 👍

        Jujur, riding kamu ini bikin aku pengin jajal sejauh itu.
        Bayanginnya seruuu .. bisa mampir2 di lokasi2 wisata yang ada di kota yang dilewati.

        Reply
  2. Idris

    Gak kebayang naek motor sejauh itu. Tapi seru plus capek bngat itu. Knp gak boncengan jg, Lebih hemat tenaga dan biaya , hehe

    Reply
    1. Rizki Post author

      kalo boncengan ada kendala di jalan itu susahnya dobel mas, tapi kalo sendiri-sendiri bisa nyariin bantuan dulu, ya memang butuh tenaga lebih selama perjalanan.

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *