Solo Touring Bandung-Batang, Mistisnya Cadas Pangeran Hingga Ganasnya Pantura

By | April 23, 2018

solo touring bandung

Kurangcermat.com – Solo touring Bandung Batang, ini merupakan rentetan perjalanan saya di Bandung. Setelah seminggu disana, saya pun harus balik lagi ke kampung halaman yang berada di Batang. Berbeda dari berangkat yang dimulai dari Jogja via jalur selatan, kali ini pulang beda jalur yaitu via Cirebon langsung ke jalur pantura Batang tanpa mampir ke Jogja dulu, muternya kejauhan. Jalur Bandung menuju Cirebon ini terkenal dengan kawasan cadas pangeran yang menurut sejarah merupakan jalur angker.

touring bandung

gambar ini minjem punya http://cadaspangeranportal.blogspot.cg

Banyak jalan di Jawa yang tergolong jalur angker kalaupun tidak angker ya jalur tengkorak, biasanya jalur jalur ini hasil buah tangan pribumi di bawah pimpinan gubernur Belanda. Kayak di tempat saya ada jalur angker yang sudah terkenal dan melegenda yaitu jalur pantura alas roban. Dulunya sebelum ada 2 jalur baru, waktu masih ada jalan utama aja kawasan alas roban terkenal angker dan banyak kendaraan mengalami kecelakaan disini, makannya dibuat jalur lingkar dan jalur pemotong yang berguna buat antisipasi kalo ada kendaraan mengalami gangguan di tengah jalur alas roban. Eh malah ngomongin alas roban.

Solo Touring Bandung-Batang

Balik lagi ke perjalanan Bandung Batang. Start dari Kopo sekitar pukul 10 pagi, padahal rencana mau berangkat pagi jam 7an, biar sampai rumah tidak kesorean bisa banyak mampir di jalan, tapi bangunnya kesiangan dan alhasil hanya menjadi wacana. Pagi itu bandung sudah panas dan lalu lintas macet, dari kopo sampe soekarno hatta sekitar setengah jam. Di jalur soekarno hatta lalu lintas lumayan padat namun lancar, cuma sering tersendat di lampu merah yang cukup lama, saya ngerasa kalo udah kena lampu merah detik pertama, rasanya seperempat jam berhenti nunggu sampai ijo, gilaaaa lama dan panas.

Begitu masuk jatinangor di deket kampus impian waktu SMA dulu (Unpad), saya berhenti nyari slayer buat gantiin yang ketinggal di Cikuray, yakalik 8 jam perjalanan tidak pakai slayer, yang ada sampai rumah hidung mimisan paru paru menjerit.

Di tanjakan jatinangor akselerasi MX masih bertenaga, mulai masuk jalur searah dan banyak kendaraan besar melintas, MX dituntut untuk kuat di tarikan bawah supaya lancar nyalip sana sini.

Petualangan saya diteruskan kembali melewati jalan yang belum pernah saya lewati sebelumnya. Saya hanya berpatok pada petunjuk arah yang di pasang di pinggir jalan seperti solo touring jogja bandung kemarin.

Setelah melewati jatinangor, perjalanan dilanjutkan ke arah Sumedang. Sebelum sampai sana, seperti yang saya bilang diatas, perjalanan masuk ke kawasan Cadas pangeran. di sebelah kiri terdapat tebing tinggi dan di sebelah kanan ada jurang lumayan curam. Konon katanya jalur cadas pangeran sudah terkenal angker. Bahkan sudah masuk 7 jalur angker versi on the spooooooot. Acara berbasis youtube loh yang nayangin. Menurut informasi yang beredar jalan ini sering terjadi kecelakaan, sehingga saya pun harus lebih berhati-hati lagi. Kalo kalian mau lebih tau tentang cadas pangeran bisa googling sendiri ya. Kondisi jalan yang melewati bukit dan lembah ini memang terlihat lebih berbahaya. Saya berhenti sejenak di pinggir jalan menghabiskan sebatang rokok dan melihat hijaunya kawasan cadas pangeran. Kebanyakan kendaraan yang lewat kendaraan besar bus dan truk, tikungan tajam juga kadang bikin motor kurang stabil. Untungnya kondisi jalan halus dan mulus tak banyak gejolak diantara kita.

solo touring bandung

gambar pinjeman dari sumedangekspres.com

Buat yang baru pertama kali lewat jalur ini kayak saya, tenang aja karna jalan ramai dan ada rest area, tidak seseram yang banyak orang bilang. Karena jalur ini masuk ke jalan raya bandung cirebon.

Setelah melewati cadas pangeran, setengah jam perjalanan, akhirnya masuk tahu Sumedang. Tingal lurus saja ikutin jalan utama, tetap hati-hati ya banyak kendaraan besar lokal dan pelan. Kondisi jalan juga kurang bersahabat, banyak tambalan jalan berkontur timbul lumayan mengoyak suspensi.

Sampai di legok transit kedua buat isi bensin, kebetulan pom bensin bersebalahan sama indomaret sekalian aja isi air juga buat perut. Pulang kali ini baru sampai sumedang belum ada setengah perjalanan sudah transit dua kali.

Lanjut lagi perjalanan menuju ke Jatiwangi tetap dengan jalan dua arah tanpa pembatas jalan. Justru jalur kayak gini yang bisa melatih kekompakan team, antara owner dan motor untuk berakselerasi membetot gas dan menginjak rem. Apalagi kalo jalanan ramai.

Sampai di Kadipaten Jatiwangi ada pertigaan besar, kalo kanan ke arah Majalengka kota, lurus Palimanan, tetap ikuti jalur saja. Jalanan masih sama tidak banyak berubah, lanjut lagi menuju ke Palimanan yang sekarang terkenal dengan jalur tol Cipali. perjalanan tetap nyaman tidak ada kendala sama sekali.

Akhirnya sampai juga ke jalur pantura Cirebon sekitar setengah dua siang, terik matahari di kota Cirebon serasa lebih dekat dengan kepala, dibandingkan tadi masih di cadas pangeran yang adem dan ijo royo-royo. Tak apa, kota udang ini memang terkenal panas selain ramainya polusi juga berada di pesisir utara pulau jawa.

solo touring bandung

gambar minjem punya zonabikers.com

Dari Cirebon ke Batang tidak ada pemandangan nyaman buat rest area. Mayoritas kendaraan besar dan jarak jauh, kecepatan sedang hingga tinggi membuat konsentrasi kita dijalan ikutan tinggi juga. Sedikit tips ketika melewati jalur pantura Jabar-Jateng alangkah baik gunakan kecepatan diatas 50km/jam. Memang sih hati-hati dan pelan itu bagus, tapi keadaan di jalur pantura kalo jalan lambat bisa-bisa di sruduk bus meskipun sudah menggunakan lajur kiri. Gambarannya gini, misal lagi jalan santai di lajur kiri, terus di kanan ada truk sejajar sama motor kalian, kendaraan di belakang kalian terutama bus akan nyundul-nyundul (mepet) biar kalian jalan lebih cepet, kalo udah tidak sabar kena klakson yang bikin senam jantung. Idealnya di kecepatan 80km/jam, kalopun ada truk di lajur kiri kita tidak kesulitan buat ambil kanan dan mendahului, karna kalo jalan pelan biasanya butuh space panjang, iya kalo motornya DOHC kayak satria, atau cb150 enak di tarikan bawah, kalo jenis motor yang digunakan SOHC dengan cc kecil apalagi matic justru lebih berbahaya. Kenapa berbahaya? secara otomatis kalo motor kita terlalu dekat dengan kendaraan di depan, ketika nyalip pasti akan terlalu makan jalan ke tengah, dan nafas di tarikan awal gak bisa langsung ngebut.

Sampai di Tegal transit ke-tiga sekaligus isi bensin lagi. Kalau di Tegal saya selalu teringat sama SPBU Muri yang berada di jalur pantura Dapyak Tegal. Kok bisa muri? Iya SPBU ini masuk rekor muri dengan toilet berjumlah 117 kamar, SPBU dengan toilet paling banyak se Indonesia raya. Dulu waktu study tour jaman SMP dikasih tau sama tour leadernya bakal transit di SPBU muri ini. Lucu juga ya, pom pengisian bahan bakar yang masuk rekor bukan banyaknya jumlah nozzle/kran, apa punya nozzle segede paha godzila, rekornya malah dengan jumlah toilet paling banyak. Selain pom, tempat ini emang di desain buat kalian-kalian yang kecapean di jalan. Beberapa fasilitas pendukung seperti toilet banyak dan bersih, gratis charger hp lengkap dengan loker dan kuncinya, gratis parkiran luas, ATM gallery, Minimarket bright, cafe 24jam, ruang tidur sewaan, ruang tunggu + play ground dan kolam renang indoor. Lengkap kan? udah kayak tempat rekreasi ya. Buat kalian yang berkendara dari Jakarta, Cirebon, Bandung atau sebaliknya saya saranin masukkan tempat ini ke list transit.

solo touring bandung

gambar punya tempo.co

solo touring bandung

gambar punya nandonurhadi.wordpress.com

Sekitar jam 5 sore akhirnya sampe rumah juga setelah melewati mistisnya cadas pangeran dan ganasnya pantura. Alhamdulillah trip solo touring panjang kali ini berakhir dengan selamat sampai rumah kembali.

Perjalanan menggunakan sepeda motor ini bisa dibilang perjalanan penuh dengan pengalaman, terutama jalan yang belum pernah kita lewati sebelumnya. Banyak orang yang kurang menyukai jalan jauh pakai motor, semua kembali ke selera dan kebutuhan, kalau waktu mepet dan butuh cepat sampai tempat mau nggak mau pakai transportasi yang cepat. Kalo menurut saya menggunakan motor seperti kita mendaki gunung “puncak hanyalah bonus, tujuan utama adalah kembali ke rumah” saya tidak hanya fokus ke Bandung dan gunung Cikuray, tapi juga menikmati jalur yang akan saya lewati, begitu asiknya berada di tempat baru dan berbagai budaya di jalan yang kita lewati, misalnya kayak kemarin solo touring jogja bandung di tengah perjalanan mampir beli es dawet. Sederhana sih, tapi bagi saya itu kepuasan tersendiri.

Selama perjalanan pulang dari Bandung ke Batang tidak ada dokumentasi pribadi karna waktu itu saya sendiri tidak punya gawai kamera dan lebih tepatnya tidak punya alat kamera sama sekali. Gambar yang saya cantumin semuanya pinjeman dari web tetangga. Maaf ya lurd, kali ini aja kok besok sudah ada foto pribadi.

5 thoughts on “Solo Touring Bandung-Batang, Mistisnya Cadas Pangeran Hingga Ganasnya Pantura

  1. Himawan Sant

    Bener, jalur Cadas Pangeran ini jalur yang harus dilalui dengan hati2 karena banyak tikungan sempit, tajam dan jalannya ngga gitu lebar.
    Aku pernah melintasi dengan bis juga naik motor, tapi saat itu aku berdua naik motor buat saling ngasi aba2.
    Keren euy … kamu berani sendirian nglewatin jalur itu ☺

    Reply
    1. Rizki Post author

      kalo lewat siang masih berani mas, rame juga kok lalu lintasnya

      Reply
  2. Dwi Arum

    Woow keren, perjalanan kaya begini harus cukup tidur sebelumnya… Rutenya emang cadaaas yaa.. hahaa

    Reply
  3. aris armunanto

    Kalau lewat jalur Cadas Pangeran di malam hari kayak apa ya seremnya?

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *